Oleh-Oleh dari Rote (4-Selesai): Gula Lempeng
Posted by Reynold Sumayku on October 3, 2009
Andreas Mooy mengaku lupa berapa umurnya secara persis. Ia hanya memberi ancar-ancar di atas 70 tahun. Wajahnya memang dipenuhi keriput. Tetapi rekan saya om Yeremi berbisik kepada saya, mungkin Pak Andreas salah hitung umur. Buktinya, Andreas berkali-kali memanjat pohon lontar pagi itu dengan kecekatan yang sangat mencengangkan untuk ukuran lelaki berumur 70-an. Otot-ototnya tampak sungguh liat.
Kami sedang mengunjungi kebun dekat kediaman Andreas dan istrinya yang keempat, Yunce Unbanu (asal Timor), di Desa Oehandi, Pulau Rote. Saya ingin melihat dari dekat bagaimana air dari pohon lontar diproses menjadi gula berbentuk lempengan-lempengan kecil. Dengan latar belakang suara tawa anak-anak yang sedang bermain, Andreas yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu sedang menunjukkannya.
Dengan bantuan Om Yeremi sebagai penerjemah, gambaran tentang gula lempeng saya dapatkan. Juni-Juli adalah bulan-bulan di mana lontar paceklik dari nira. Airnya kering. Kemudian mulai Agustus hingga November adalah saatnya masyarakat Rote banyak membuat gula lempeng dan gula cair dari pohon lontar, karena airnya sedang banyak-banyaknya. Desember hingga Maret, dengan asumsi standar bahwa itu sedang musim penghujan, pohon-pohon lontar biasanya tidak menghasilkan air sama sekali.
Jika Andreas bertugas memanjat pohon, mengambil nira, dan menurunkannya ke bawah dengan wadah dari daun lontar, Yunce bertugas merebus, mencetak, mendinginkan, kemudian menjual gula-gula lempeng yang dihasilkan. Ia biasanya menjual kepada pengumpul dengan harga 100 rupiah per lempeng. Dalam sehari mereka membuat minimal 150 lempengan gula.
Waktu memotretnya hanya sekitar dua jam lebih sedikit. Saya jauh dari kata puas dengan hasilnya. Tetapi setidaknya, setelah yang satu ini saya merasa lega karena target dari perjalanan ke Rote cukup terpenuhi

Om Yeremi Pah (jaket merah) di bawah pohon-pohon lontar dekat Danau Tua. Di Rote, ada satu jenis pohon lagi yang mirip lontar yakni pohon gewang. “Tetapi gewang tidak begitu banyak kegunaannya dibanding lontar,” katanya.

Andreas Mooy memanjat pohon lontar.

Wadah yang digunakan terbuat dari daun lontar pula. Ini Pak Andreas Mooy dari dekat. Anda percaya ia berumur 70-an tahun? Saya percaya.

Yunce Unbanu tengah mendidihkan air nira dari pohon lontar. Awalnya berwarna putih, ketika mengental akan berwarna cokelat.

Gula lempeng yang masih cair dituangkan ke dalam cetakan-cetakan yang dibuat dari daun lontar juga. Kemudian didinginkan.

Sudah mulai mengering.
October 19th, 2009 at 12:18 pm
andai pemuda Indonesia bermental seperti pak Andreas Mooy_pekerja keras_ tentu tak ada remaja2 ngamen di perempatan. malu!
October 19th, 2009 at 7:59 pm
wah keren….
pasti enak makanannya ya..
October 21st, 2009 at 2:36 pm
Kearifan lokal tidak akan pernah berhenti membuat kita belajar bahawa hidup itu adalah proses.
Sama halnya seperti proses pembuatan gula ini yang panjang dan sampai bisa dinikmati .
Nice…..
October 26th, 2009 at 7:09 am
perlu kita hargai orang sepeti pak Andreas Mooy secar tidak langsung memebri contoh tauladan yang baik kepada kita semua
October 29th, 2009 at 2:13 pm
alami banget proses pembuatan gulanya……
November 6th, 2009 at 2:51 pm
bang reynold, mohon ijin bwt posting tulisan abang ya…
November 16th, 2009 at 2:22 pm
@semuanya: trims sudah mampir..
November 20th, 2009 at 12:33 pm
Maaf saya ga percaya kalau Pak Andreas berumur 70-an tahun… Kurasa masih 55 tahun…
tapi ya sudahlah percaya ga percaya… hehe..
ehm… apa itu seperti gula merah atau gula jawa? jadi ingin tau neh rasanya,,,
November 20th, 2009 at 2:55 pm
Indri: percaya aja deh kayak saya haha.. nggak tau rasanya kayak apa. habis motret buru-buru ke pelabuhan, padahal sudah mau dibekali.
December 12th, 2009 at 5:54 pm
Itu pict yang pertama,langitnya biru banget. Kayanya kalo manis alami gitu pasti enak yah.. kalo di jawa ada yg jual gula nira gitu ga ya?
December 22nd, 2009 at 3:54 pm
Nuning: Iya, langit di sana biru sekali kalau pagi atau sore. Yang jual gula lempeng di Jawa saya nggak tau apakah ada..
December 29th, 2009 at 5:37 pm
TOP dah tu t4..^^
December 30th, 2009 at 2:59 pm
wahh … matap mas cerita jurnalistik nyaaa … foto jurnalistiknya menceritakan banyakk … banyaakk yang bisa saya pelajari dari sini … belajar belajar belajar … mantaaavvvv !!!!
January 17th, 2010 at 1:33 pm
Gula lempeng..,
wah lama nih nggak makan “snack” kesukaan saya ketika kecil dulu. Gula lempeng sering disisipkan mama di saku seragam SD saya ketika ke sekolah. Kata mama, gula lempeng membantu menahan lapar. Maklum tak terbiasa memberi saya uang jajan..
Thanks yah..
January 31st, 2010 at 12:37 pm
Saya juga percaya pak Andreas mungkin sudah berumur 70an tapi nampak lebih muda karena aktifitas dan gaya hidupnya sederhana. Gula lempeng memang pantas buat jadi oleh2 special dari Pulau Rote karena keunikan dan kelangkaannya. Artikel yang bagus bung Reynold.. : )
February 17th, 2010 at 6:14 pm
waah menarik sekali.. saya jadi tertarik tuk mengunjungi pulau Rote.
skalian pengen tau juga rasa gula lempeng itu sperti apa? apakah sama seperti gula jawa atau gula aren yaa?
February 28th, 2010 at 9:53 am
perjalanan yang mengesankan pastinya…
March 5th, 2010 at 8:01 pm
orang-orang di pedesaan memang umunya sehat-sehat dan berstamina bagus walaupun sudah berumur. mungkin karena biasa bangun pagi langsung beraktivitas di ladang, udara masih sejuk dan makanan pun masih alami. begitu damai dan ideal
ohya, kami sekeluarga sampai saat ini pun masih mengkonsumsi gula merah dan teh buatan keluarga dari kampung. membaca ini saya jadi ingin membeli kamera DSLR yang lebih bagus untuk foto-foto ketika mudik nanti